Kamis, 23 Februari 2017

PENGEMBANGAN E-LEARNING DALAM PEMBELAJARAN KIMIA

PENGEMBANGAN E-LEARNING DALAM PEMBELAJARAN KIMIA

 

Pengertian e-learning pada umumnya terfokus pada cakupan media atau teknologinya. E-learning menurut Gilbert & Jones dalam Surjono (2007) adalah suatu pengiriman materi pembelajaran melalui suatu media elektronik, seperti internet, intranet/ekstranet, satelite broadcast, audio/video, TV interaktif, CD-ROM dan computer based training (CBT). E-learning juga diartikan sebagai seluruh pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik (LAN, WAN atau Internet) untuk membantu interaksi dan penyampaian materi selama proses pembelajaran. Urdan dan Weggen menyatakan e-learning sebagai suatu pengiriman materi melalui semua media elektronik, termasuk internet, intranet, siaran radio satelit, alat perekam audio/video, TV interaktif, dan CD-ROM (Anderson, 2005).
E-learning pada pembelajaran di sekolah-sekolah khususnya pembelajaran sains telah diterapkan sejak beberapa tahun yang lalu. Selain untuk tujuan pembelajaran, penerapan e-learning juga sebagai sarana untuk mengenalkan teknologi informasi kepada peserta didik. Namun sampai sekarang pemanfaatannya masih kurang optimal. Bahkan sebagian orang beranggapan bahwa penerapan e-learning hanya sekedar mengikuti trend saja tanpa menghiraukan apakah tujuan pembelajaran dapat tercapai atau tidak. Oleh karena itu, penelitian atau kajian pustaka tentang implementasi e-learning khususnya pada pembelajaran sains perlu terus dilakukan.
Pembelajaran berbasis web adalah proses belajar mengajar yang dilakukan dengan memanfaatkan jaringan internet, sehingga sering disebut juga dengan e-learning. Internet merupakan jaringan yang terdiri atas ribuan bahkan jutaan komputer, termasuk di dalamnya jaringan lokal, yang terhubungkan melalui saluran (satelit, telepon, kabel) dan jangkauanya mencakup seluruh dunia. Internet memiliki banyak fasilitas yang dapat digunakan dalam berbagai bidang, termasuk dalam kegiatan pendidikan. Fasilitas tersebut antara lain: e-mail, Telnet, Internet Relay Chat, Newsgroup, Mailing List (Milis), File Transfer Protocol (FTP), atau World Wide Web (WWW).
Khan dalam Herman Dwi Surjono (1999) mendefinisikan pengajaran berbasis web (WBI) sebagai program pengajaran berbasis hypermedia yang memanfaatkan atribut dan sumber daya World Wide Web (Web) untuk menciptakan  lingkungan belajar yang kondusif. Sedangkan menurut Clark WBI adalah pengajaran individual yang dikirim melalui jaringan komputer umum atau pribadi dan ditampilkan oleh web browser. Oleh karena itu kemajuan WBI akan terkait dengan kemajuan teknologi web (perangkat keras dan perangkat lunak) maupun pertumbuhan jumlah situs-situs web di dunia yang sangat cepat.
  Model Pengembangan Pembelajaran Berbasis Web
Multimedia pembelajaran berbasis web merupakan perangkat lunak yang digunakan dalam aktivitas pembelajaran. Salah satu referensi pengembangan perangkat lunak adalah pendapat pakar Software Enginering yaitu Roger S. Pressman. Menurut Pressman (2002: 38), rekayasa perangkat lunak mencakup tahap-tahap: analisis kebutuhan, desain, pengkodean, pengujian, dan pemeliharaan.
Salah satu model pembelajaran berbasis web dikembangkan oleh Davidson dan Karel L. Rasmussen (2006). Model yang dikembangkan oleh Davidson dan Rasmussen tersebut meliputi tahap analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi.
Tahap analisis meliputi analisis masalah dan analisis komponen pembelajaran. Tahap desain meliputi desain pembelajaran dan desain software. Tahap pengembangan adalah merakit berbagai komponen desain pembelajaran dan software menjadi sebuah program pembelajaran berbasis web. Tahap implementasi terdiri dari implementasi sementara dan implementasi penuh. Sedangkan tahap evaluasi dibedakan menajdi evaluasi formatif dan evaluasi sumatif.
Pengembangan desain pembelajaran untuk web based learning dirancang sedemikian rupa agar proses pembelajaran online tersebut dapat berjalan dengan efektif. Ada tiga elemen pokok yang harus ada dalam desain model pembelajaran berbasis web, yaitu learning tasks, learning resources, dan learning supports. Learning tasks mencakup aktivitas, masalah, dan interaksi untuk melibatkan peserta didik. Learning resources memuat konten, informasi dan sumber-sumber yang dapat diakses oleh peserta didik. Learning supports terkait dengan petunjuk belajar, motivasi, umpan balik, dan kemudahan akses bagi peserta didik.
Soekartawi (2003) menyarankan beberapa tahap yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan model pembelajaran berbasis web. Tahap-tahap tersebut meliputi: analisis kebutuhan, rancangan instruksional, pengembangan, pelaksanaan, dan evaluasi. Tahap awal yang perlu dipertimbangkan adalah apakah pembelajaran berbasis web memang dperlukan. Hal tersebut harus disesuaikan dengan karakteristik dan kondisi lembaga pendidikan. Rancangan instruksional meliputi aspek analisis konten, analisis peserta didik, dan analisis komponen pembelajaran lainnya. Pengembangan e-learning merupakan proses produksi program dengan mengintegrasikan berbagai software dan hardware yang diperlukan. Pelaksanaan merupakan realisasi penggunaan program yang telah dihasilkan dan menganalisis kelemahan-kelemahan yang terjadi. Evaluasi diperlukan dalam bentuk beta test ataupun alfa test untuk menguji usabilitas dan efektivitas program sebelum diimplementasikan secara formal.
Pengembangan model pembelajaran berbasis web perlu memperhatikan komponen strategi pembelajaran. Komponen-komponen utama dari strategi pembelajaran yang harus dirancang adalah: aktivitas awal pembelajaran, penyajian materi, partisipasi peserta didik, penilaian, dan aktivitas tindak lanjut.Aktivitas awal pembelajaran berupa pemberian motivasi, menumbuhkan perhatian, menjelaskan tujuan pembelajaran, dan menjelaskan kemampuan awal yang diperlukan. Penyajian materi meliputi sajian bahan ajar dan contoh-contoh yang relevan. Partisipasi peserta didik dibangun dengan adanya praktik atau latihan dan umpan balik. Penilaian dapat berupa tes kemampuan awal, pretest, dan posttest. Aktivitas tindak lanjut dilakukan untuk membantu mempertahankan daya ingat terhadap materi pembelajaran.
 
 
DAFTAR PUSTAKA 
 
 
Anderson, B. 2005.  “Strategic e-learning implementation.” Educational Technology & Society, 8 (4), 1-8. 1. ISSN 1436-4522
 Alberts, P. P., Murray, L. A., Griffin, D. K., & Stephenseon, J. E. 2007. Blended Learning: Beyond Web Page Design for the Delivery of Content. Dalam Joseph Fong & Fu Lee Wang (Eds.), Prosiding Workshop on Blended Learning (hlm. 53-65), Edinburgh, 15-17 Agustus 2007.
 
Soekartawi, 2003 . Meningkatkan Efektivitas Mengajar. Jakarta : Pustaka Jaya
 
 

 

32 komentar:

  1. Pengembangan model pembelajaran berbasis web perlu memperhatikan komponen strategi pembelajaran, jelaskan komponen strategi apa saja ?

    BalasHapus
  2. Komponen strategi yanhg dimaksud disini yaitu analisis kebutuhan, rancangan instruksional, pengembangan, pelaksanaan, dan evaluasi. Tahap awal yang perlu dipertimbangkan adalah apakah pembelajaran berbasis web memang dperlukan. Hal tersebut harus disesuaikan dengan karakteristik dan kondisi lembaga pendidikan. Rancangan instruksional meliputi aspek analisis konten, analisis peserta didik, dan analisis komponen pembelajaran lainnya

    BalasHapus
  3. Tentunya ada, contohnya sebagai berikut:
    1. silaturahmi atau hubungan tatap muka antar mahasiswa dengan mahasiswa atau dosen dengan mahasiwa jadi semakin jarang.
    contohnya : komunikasi antar mahasiswa tidak berjalan baik karena tidak saling menggenal
    2. penilain yang dihasilkan akan bersifat tidak objektive
    contohnya : mahasiswa yang memiliki koneksi internet bagus akan lebih bisa mencari jawaban yang paling sesuai jika ada kuis atau tugas karena, mahasiswa dapat melihat dari sumber mana saja.
    3. dalam beberapa kasus mahasiswa tidak dapat menjawab atau menyeselaikan permasalan dalam forum sehingga kurang efisien.
    contoh : ketika mahasiswa sedang ada diluar kota yang susah sinyal.
    4. tidak dapat diukur secara real kemampuan mahasiswa yang sesungguhnya.
    contoh : mahasiwa a memiliki fasilitas yang bagus untuk internet sehingga menunjang elearning, sedangkan mahasiswa b tidak, jadi menjawab atau mencari data seadanya

    BalasHapus
  4. menambahkan blog anda :

    Tiga atribut pengembangan berdasarkan model Alessi&Trollip dapat dijelaskan sebagai berikut:
    1. Standard merupakan langkah awal atau pondasi dari sebuah proyek penelitian. Di dalamnya didefinisikan kualitas proyek yang direncanakan, sedangkan poin-poin diperhitungkan untuk menentukan kualitas dalam fase perencanaan (planning). Untuk melihat standar kualitas yang diinginkan dalam pengembangan produk ini, maka langkah yang dilakukan yaitu menentukan bidang/ruang lingkup batasan, mengidentifikasikan karakteristik pembelajar, menetapkan hambatan, mamperkirakan biaya, membuat dokumen perencanaan, memproduksi sebuah buku pedoman, menentukan dan mengumpulkan sumber-sumber, melakukan brainstroming, menetapkan rencana tampilan
    2. Ongoing evaluation yaitu evaluasi berkelanjutan dari tahap awal hingga akhir kegiatan dengan mengacu kepada standar yang telah ditetapkan sebelumnya. Semua komponen dalam proyek harus diuji, dievaluasi, dan jika perlu direvisi sebelum produk diimplementasikan. Di dalam proses ongoing evaluation ini, peneliti melibatkan ahli media (pengevaluasi media, ahli materi (pengevaluasi materi), peserta didik dengan kelompok kecil dan besar (menguji coba dan mengevaluasi produk).
    3. Project management yaitu berkaitan dengan pengaturan sumbersumber seperti uang, waktu, materi dan lain-lain. Bagian dari proses ini adalah perencanaan di awal proyek seperti pembuatan matriks kerja, monitoring kemajuan yang dicapai.

    BalasHapus
  5. bagaimana proses evaluasi dalam pembelajaran e-learning ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sistem evaluasi yang diimplementasikan
      dalam e-learning dapat dioptimalkan
      untuk memenuhi seluruh persyaratan
      evaluasi yaitu memiliki validitas,
      reliabilitas, objektivitas, praktikabilitas,
      dan ekonomis. Keseluruhannya dapat
      diterapkan secara kontinu dan
      komprehensif, namun tetap terbatas
      karena bagaimanapun e-learning tidak
      dapat menggantikan sistem pembelajaran
      konvensional secara utuh, terutama
      dalam hal interaksi manusiawi dan
      aktivitas secara fisik.

      SILUENS – Sistem Evaluasi Berinteligensia dalam e-Learning (PDF Download Available). Available from: https://www.researchgate.net/publication/274639799_SILUENS_-_Sistem_Evaluasi_Berinteligensia_dalam_e-Learning [accessed Jun 1, 2017].

      Hapus
  6. menurut anda apakah pembelajran e-learning sudah efektif digunakan saat ini?

    BalasHapus
    Balasan
    1. belum, mengingat keterbatasan teknologi diindonesia

      Hapus
  7. Apa saja kendala yang sering muncul dalam pengembangan e-learning dalam pembelajaran?

    BalasHapus
    Balasan
    1. salah satu kendalanya adalahb jaringan yang sulit didapatkan apalagi didaerah yang jauh

      Hapus
  8. dari e-learning yang anda buat apa saja sih kelemahan dari -learning tersebut dan bagaimana cara untuk menanggulanginya? Jelaskan

    BalasHapus
    Balasan
    1. a. Kurangnya interaksi antara pengajar dan siswa atau bahkan antara siswa itu sendiri, bisa memperlambat terbentuknya values dalam proses belajar mengajar.

      b. Kecenderungan mengabaikan aspek akademik atau aspek sosial dan sebaliknya mendorong aspek bisnis atau komersial.

      c. Proses belajar dan mengajarnya cenderung ke arah pelatihan dari pada pendidikan.

      d. Berubahnya peran guru dari yang semula menguasai teknik pembelajaran konvensional, kini dituntut untuk menguasai teknik pembelajaran dengan menggunakan ICT (Information Communication Technology).

      e. Siswa yang tidak mempunyai motivasi belajar yang tinggi cenderung gagal.

      f. Tidak semua tempat tersedia fasilitas internet (berkaitan dengan masalah tersedianya listrik, telepon, dan komputer).

      g. Kurangnya mereka yang mengetahui dan memiliki keterampilan soal-soal internet.

      h. Kurangnya penguasaan bahasa komputer.

      Hapus
  9. Apakah seluruh materi kimia dapat dijelaskan menggunakan e-learning? Bagaimana kita tahu siswa sudah memahaminya atau belum?

    BalasHapus
    Balasan
    1. tidak, contohnya materi stoikiometri yang lebih baik dijelaskan secaar langsung darpada melalui e-learning agar siswa lebih mengerti

      Hapus
  10. seberapa efektifkah e-learning dalam pembelajaran kimia menurut anda? tolong jelaskan

    BalasHapus
    Balasan
    1. menurut saya tidak begitu efektif,karena materi kimia adalah materi yang sulit dipelajari apalagi untu aanak SMA, dan lebih banyak itungannya, jadilebih baik disamapikan secara langsung agarmudah dipahami oleh siswa

      Hapus
  11. mengapa sampai saat ini kegiatan belajar mengajar menggunakan elearning belum mendapat pengakuan dari lembaga pendidikan berupa ijazah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. alasannya mungkin karena tidak semua materi pelajaran dapat diajarkan melalui e-learning

      Hapus
  12. Model pengajaran berbasis web juga menekankan penilaian pada level tugas. Evaluasi tidak sekedar untuk mengetahui tingkat pemahaman suatu materi, tetapi dikembangkan untuk menilai pencapaian penyelesaian tugas. Mahasiswa tidak dievaluasi sampai sejauh mana pengetahuan yang dimilikinya tetapi bagaimana ia memanfaatkan pengetahuannya untuk menyelesaikan suatu permasalahan.
    Uraian di atas menunjukan bahwa sebagai dasar dari e-learning adalah pemanfaatan teknologi internet. Jadi e-learning merupakan bentuk pembelajaran konvensional yang dituangkan dalam format digital melalui teknologi internet. Oleh karena itu e-learning dapat digunakan dalam sistem pendidikan jarak jauh dan juga sistem pendidikan konvensional. Dalam pendidikan konvensional fungsi e-learning bukan untuk mengganti, melainkan memperkuat model pembelajaran konvensional.

    BalasHapus
  13. Apakah anda akan menggunakan e-learning jika mengajar nanti? Mengapa? Lalu e-learning seperri apa yang akan anda gunakan?

    BalasHapus
  14. Kenapa Pengembangan model pembelajaran berbasis web perlu memperhatikan komponen strategi pembelajaran. Dan strategi apa yang akan anda gunakan dalam mengajar nanti dengan menggunakan media e-learning?

    BalasHapus
    Balasan
    1. strategi yang akan saya pakai adalah Learning by exploring. Mempelajari sesuatu dengan cara melakukan eksplorasi terhadap subyek yang hendak dipelajari. Mahasiswa didorong untuk memahami suatu materi dengan cara melakukan eksplorasi mandiri atas materi tersebut. Aplikasi harus menyediakan informasi yang cukup untuk mengakomodasi eksplorasi dari mahasiswa. Mempelajari sesuatu dengan cara menetapkan suatu sasaran yang hendak dicapai (goal-directed learning). Mahasiswa diposisikan dalam sebagai seseorang yang harus mencapai tujuan/sasaran dan aplikasi menyediakan fasilitas yang diperlukan dalam melakukan hal tersebut. Mahasiswa kemudian menyusun strategi mandiri untuk mencapai tujuan tersebut

      Hapus
  15. Prinsip pembelajaran berbasis web, yaitu :
    1. Web Course
    proses aktivitas pembelajaran yang terjadi tanpa tatap muka secara langsung antara pengajar dan peserta didik.web course ini ada 2 macam :
    a. synchronize : Pengajar dan peserta didik melakukan pembelajaran dalam waktu yang bersamaan di tempat yang berbeda.
    b.Asynchronize : Pengajar dan peserta didik melakukan pembelajaran dalam waktu yang tentukan dan ditempat yang berbeda. Misalnya pengajar bertanya dengan peserta didik, lalu si peserta didik tidak harus menjawab pada saat itu juga akan tetapi bisa di lain waktu.
    2. Web Centric Course
    Aktivitas pembelajaran yang 50% nya mencakup synchronize dan asynchronize dan 50% nya lagi melakukan aktivitas pembelajaran dengan berinteraksi secara langsung.
    3. Web Enhanced Course
    Kegiatan tatap muka biasa secara langsung dan dihadiri juga sumber lain misalnya dengan menampilkan video ataupun dengan mengakses sumber lain dari internet pada saat proses pembelajaran.

    BalasHapus
  16. seefektif apakah e-learning ini jika digunakan dalam pembelajaran kimia?

    BalasHapus
    Balasan
    1. menurut saya kurang efektif karena bakalan banyak murid yang bingung mempelajai materi kimia dengan melalui e-learning

      Hapus
  17. Tambahan , dari Hasil penelitian Setiawan (2014) tentang implementasi menggunakan Technology Acceptance Model (TAM) menunjukkan bahwa faktor-faktor yang signifikan mempengaruhi penerimaan user (peserta didik atau guru) sebagai berikut.
    1. Pengguna (peserta didik atau guru) yang sudah memahami kemudahan menggunakan sistem e-learning tersebut dan manfaat menggunakannya, maka akan mempunyai niat dan minat untuk menggunakan sistem e-learning. Dari minat penggunaan tersebut maka para pengguna akan senantiasa secara nyata menggunakan sistem e-learning sebagai sumber pembelajaran.
    2. Keberadaan pemahaman akan manfaat penggunaan sangat dipengaruhi oleh faktor di luar pengguna yakni organisasi bahan ajar elektronik yang dimiliki oleh sistem e-learning tersebut. Lain halnya untuk pemahaman akan adanya kemudahan menggunakan sistem e-learning yang sangat dipengaruhi oleh faktor luar bagi sistem e-learning tersebut yakni kondisi dari perbedaan individu pengguna.
    3. Bentuk model penerimaan sebuah teknologi informasi baru, yakni sistem e-learning yang diterapkan pada sampel pengguna yaitu ErO (relevansi e-resource dengan kebutuhan pembelajaran dan aksesibilitas e-resource dalam penggunaan) dan ID (visibilitas penggunaan, perkembangan diri teknologi komputer, pengalaman atas penggunaan komputer, dan pengetahuan akan bahan ajar) sebagai faktor laten luar atau faktor eksternal. PEoU (kemudahan untuk dipelajari/dipahami, kemudahan untuk digunakan, dan frekuensi penggunaan dalam pembelajaran), PU (kemudahan untuk meningkatkan keterampilan pembelajaran, mempertinggi efektifitas pembelajaran, menjawab kebutuhan pembelajaran, meningkatkan hasil pencapaian pembelajaran, meningkatkan efisiensi pembelajaran, dan memungkinkan adanya pengembangan cara pembelajaran), ITU (penambahan software/plugin pendukung, motivasi untuk tetap menggunakan dalam pembelajaran, dan memotivasi pengguna lain) dan ASU (lama penggunaan dalam pembelajaran dan kepuasan penggunaan dalam pembelajaran) sebagai faktor dalam atau faktor internal.

    BalasHapus
  18. terimakasihtel;ah menambahkan artikel saya

    BalasHapus
  19. Ada tiga elemen pokok yang harus ada dalam desain model pembelajaran berbasis web, yaitu learning tasks, learning resources, dan learning supports. Mohon diberi penjelasannya.

    BalasHapus